Mengenal Imam Bukhari, Kejeniusan, Kesalehan dan Kewarakannya

Masyarakat muslim pasti tidak asing dengan Sahih Bukhari, sebuah kitab himpunan hadits-hadits sahih yang kualitasnya diapresiasi oleh banyak ulama. Imam an-Nawawi pernah mengatakan bahwa kesahihan hadits-hadits yang ada di dalam kitab tersebut telah disepakati oleh seluruh ulama. Kitab tersebut ditulis oleh seorang yang ‘alim kelahiran Uzbeskistan bernama Imam Bukhari. Berikut biografinya.
A. BIOGRAFI IMAM BUKHARI
1. Kelahiran
Abu Abdillah Muhammad bin Ismail bin Ibrahim bin al-Mughirah bin Bardizbah bin al-Ja’fii al-Bukhari, itulah nama asli sosok ulama besar yang lebih kita kenal dengan Imam Bukhari. Beliau lahir pada Jumat malam, 13 Syawal tahun 194 H di Bukhara, Uzbeskistan, Asia Tengah.2. Masa Kanak-kanak
Masa kecil Imam Bukhari terbilang cukup sulit, tidak seperti anak-anak yang lain pada umumnya. Bagaimana tidak, saat masih kecil beliau telah ditinggal oleh sang ayah untuk selamanya, maka ibunya lah yang senantiasa merawat dan mendidiknya dengan sepenuh hati. Ibunya adalah seorang perempuan yang bertaqwa dan salihah, dan ia adalah salah satu sebab terpenting dalam membangun kepribadian Imam Bukhari, hal itu karena ia senantiasa mendorong Imam Bukhari untuk menuntut ilmu.Masa-masa kecil beliau lalui dengan rasa pilu. Ketika beliau dan keluarga ditimpa cobaan oleh Allah, berupa meniggalnya sang ayah, ditambah lagi beliau kehilangan pengelihatannya.
Dalam menghadapi situasi tersebut sang ibu terus menangis dan tidak pernah mengenal kata menyerah berdoa dan bermunajat kepada Allah meminta supaya pengelihatan sang putra dikembalikan. Sehingga pada suatu malam sang ibu bermimpi bertemu dengan Nabi Ibrahim, dalam mimpi tersebut Nabi Ibrahim berkata :
“Wahai ibu, sesungguhnya Allah telah mengembalikan penglihatan putramu, karena tabahnya engkau serta munajatmu yang tak putus kepada Allah.”
Setelah mendengar ikhwal mimpi tersebut, sang ibu pun segera terjaga dari tidur dan mendapati sang putra sudah bisa melihat.
Ayah Imam Bukhari, Ismail bin Ibrahim juga seorang ulama hadits. Beliau berguru pada sejumlah ulama termasyhur pada masa itu, seperti Malik bin Anas, Hammad bin Zaid dan Ibn Mubarak. Maka tak ayal setelah sang ayah wafat, Imam Bukhari mewariskan kecintaan ilmu hadits sepeninggalan ayahnya.
Kegigihan dan kejeniusan Imam Bukhari sudah terlihat sejak masih kecil, belum genap usianya sepuluh tahun ia sudah menghafalkan banyak hadits. Ia berguru kepada sejumlah ulama di negerinya. Di usianya yang 16 tahun ia sudah menghafal kitab hadits karya Ibnul Mubarak dan Waqi’, ia juga sudah memahami Fiqih Ashabur Ra’yi.
Beliau tidak hanya menghafal matan haditsnya saja, tetapi juga mengenal betul biografi para perawi yang mengambil atau menukil sejumlah hadist, baik data tanggal dan tempat lahir, tanggal dan tempat meninggal dan sebagainya.
3. Perjalanan Menuntut Ilmu
Ketika berumur 16 tahun, Imam Bukhari berangkat bersama ibunda dan saudaranya yang bernama Ahmad ke Negeri Makkah untuk melaksanakan ibadah haji. Setelah selesai, ibu dan Ahmad kembali ke Bukhara, sedangkan Imam Bukhari memilih untuk menetap di Makkah karena ingin mempelajari ilmu hadits kepada ulama-ulama yang ada disana.Beliau akhirnya berguru kepada beberapa ulama di kota Makkah saat itu, seperti Abu Abdirrahman al-Muqri, Khallad bin Yahya, al-Humaidi, dan lainnya;
Pada tahun 212 H, Imam Bukhari merasa cukup mempelajari ilmu di kota Mekkah dan melanjutkan perjalanannya ke kota Madinah, di kota tersebut Imam Bukhari berguru kepada beberapa ulama, antara lain Ibrahim Al-Mundzir, Mutharrif bin Abdullah, Ibrahim bin Hamzah, dan Abu Tsabit Muhammad, dan lainnya;
Selama di kota tersebut, Imam Bukhari tidak hanya belajar ilmu hadits saja, akan tetapi beliau juga telah berhasil merampungkan dua kitab yakni, kitab Qadaya Al-Sahabah dan kitab Al-Tarikh Al-Kabir. Kedua kitab tersebut ditulis oleh Imam Bukhari di makam Rasulullah pada malam belasan bulan Qamariyah saat itu umur beliau baru genap 18 tahun.
Setelah itu Imam Bukhari melanjutkan perjalanannya menuju kota Basharah. Disana beliau berhasil menjumpai beberapa syeikh, seperti Abu Ashim An-Nabil, Shawfan bin Isa, Badil bin Tsabit Al-Mahbar, Harami bin Imarah, Affan bin Muslim, Muhammad bin Sinan dan beberapa ulama lainnya.
Rihlah berikutnya adalah ke Kufah. Di antara guru-guru Imam Bukhari yang termashyur di kota Kufah adalah Abdullah bin Musa, Abu Nua’im bin Ya’kub, Ismail bin Aban, Hasan bin Ar-Rabi’, Khalid bin Al-Mujalid dan Said bin Hafsh.
Imam Bukhari juga melakukan rihlah ke Syam, dikota ini Imam Bukhari banyak menimba ilmu hadits kepada para syaikh yang atara lain: Yusuf Al-Faryabi, Abu Ishaq bin Ibrahim, Adam bin Ilyas, Abul Yaman Al-Hakam bin Nafi’ dan Hayawah bin Syuraih.
Setelah itu beliau melanjutkan perjalanannya ke Mesir, disana, beliau berguru kepada ulama terkemuka Utsaman bin Ash-Sha’igh, Said bin Abi Maryam, Abdullah bin Shaleh dan Ahmad bin Syuaib. Selain daerah-daerah di atas, Imam Bukhari juga berkelana ke Jazirah Arab, Khurasan dan daerah-daerah sekitarnya seperti Maroko, Balakh dan Harah.
4. Menyusun Sahih Bukhari
Setelah melakukan perjalanan selama hampir 16 tahun, Imam Bukhari akhirnya kembali ke kampung halamannya di Bukhara dan telah menghafal kurang lebih 300.000 hadits.Disana beliau melakukan seleksi dan pembukuan terhadap hadits-hadits yang didapatkan dari para gurunya. Imam Bukhari berhasil menyaring hadits-hadits tersebut hingga tinggal sebanyak 7.275 hadits dan menuangkannya kedalam sebuah karya monumentalnya bertajuk al-Jami’ al-Musnad al-Sahih al-Mukhtasar min Umur Rasulillah wa Sunnatihi wa Ayyamihi atau yang lebih dikenal dengan Sahih Bukhari.
Kitab tersebut menjadi koleksi hadits yang dianggap memiliki kualitas terbaik dan autentik oleh kalangan Muslim Sunni.
Selain Shahih Bukhari, karya terkenal Imam Bukhari lainnya adalah Al-Adab al-Mufrad.
Karya-karya Imam Bukhari lainnya :
- Qadaya al-Sahabah,
- Raf’al Yadain,
- al-Tafsir al-Kabir,
- al-Musnad al-Kabir,
- Tarikh Saghir,
- Tarikh Ausat,
- Tarikh Kabir,
- al-Adab al-Mufrad,
- Birr al-Walidain,
- al-Du’afa,
- al-Jami’ al-Kabir,
- al-Asyribah Asma’ al-Sahabah,
- al-Wuhdan,
- al-Mabsut,
- al-‘Ilal,
- al-Kuna, al-Fawa’id.
5. Kesalehan dan Kewarakannya
Selain mencari ilmu, Imam Bukhari juga dikenal sebagai seorang yang ahli ibadah. Musabbah bin Said berkata :"Imam Bukhari pernah berkumpul bersama para sahabatnya untuk menunaikan shalat. Dalam shalat itu, ia membaca sebanyak dua puluh ayat setiap rakaatnya hinga khatam. Sedangkan di waktu sahur, ia membaca sepertiga Al-Quran dan mengkhatamkannya di setiap tiga malam sekali. Begitu pula ketika siang harinya, ia menghaktamkan Al-Quran di waktu berbuka puasa. Beliau berkata bahwa “Seseorang yang mengkhatamkan Al-Quran maka doanya akan dikabulkan.”
Al-khatib Al-Baghdadi dalam kitabnya Tarikh Baghdad disebutkan,
“Dari Muhammad bin Abi Hatom Al-waraq, ia berkata : Imam Bukhari pernah shalat tiga belas rakaat dan witir satu rakaat di waktu sahur. Saat sedang shalat, Imam Bukhari tidak membangunkanku yang sedang tertidur didekatnya. Oleh karena itu, aku berkata padanya, “Bagaimana kamu melaksanakan ini dan tidak membangunkanku?” Imam Bukhari menjawab, “Sesungguhnya kamu masih muda dan aku tidak suka merusak tidurmu.”
6. Murid-murid Imam Bukhari
Imam Bukhari memiliki kesucian cinta terhadap ilmu pengetahuan, sehingga ia rela melakukan apa saja asalkan ilmu itu diperolehnya. Meskipun harus berjalan menuntun keledai atau unta melewati gurun padang pasir. Ternyata, dari kisah pengorbanan Imam Bukhari ini, mengindikasikan bahwa ketika kita mencintai sesuatu hal, maka kita akan sanggup berkorban agar sesuatu hal itu bisa diperoleh.Kualifikasi intelektual Imam Bukhari juga dibuktikan dengan keberhasilannya dalam mencetak ulama-ulama pada zamannya. Berikut adalah beberapa murid hasil didikannya : Abu ‘Isa at-Tirmizdi, Abu Hatim, Ibrahim bin Ishaq al-Harbi, Abu Bakar bin Abi Dunia, Abu Bakar Ahmad bin ‘Amr bin Abi ‘Ashim, Shalih bin Muhammad Juzrah, Muhammad bin Abdullah al-Khadiri, Ibrahim bin Ma’qil an-Nasafi, Abdullah bin Najiyah, Abu Bakar Muhammad bin Ishaq bin Khuzaimah, Amr bin Muhammad bin Bujair, Abu Kuraib, Muhammad Muhammad bin Jumu’ah. Kemudian Yahya bin Muhammad bin Sha’id, Muhammad bin Yusuf al-Farabri, Abu Bakar bin Abi Dawud, Abdullah bin Muhammad bin al-Asyqar, Muhammad bin Salman bin Faris, Muhammad bin ‘Ambar an-Nasafi, dan sejumlah murid-murid lainnya. (Abu Bakar al-Kafi, Manhajul Imam Bukhari, tanpa tahun: 43-47)
B. FITNAH SEBELUM WAFATNYA
Diriwayatkan oleh Abu Bakar bin Munir bin Khulaid bin Askar, beliau berkata :“Khalid Bin Ahmad Adz-Dzahuli, seorang amir di daerah Bukhara menemui utusan untuk bertemu Imam Bukhari, utusan tersebut menyampaikan pesan sang amir, yang berisi agar Imam Bukhari bersedia Membawa kitab karya Al-jami’, At-Tarikh dan yang lain kepadanya, supaya Imam Bukhari bersedia membacakan untuknya. Menyikapi perintah tersebut Imam Bukhari berkata. “Aku tidak akan menghinakan ilmu dan aku tidak akan membawakannya ke semua pintu manusia. Katakan kepadanya (Khalid) bila dia menginginkan ilmu itu, maka datanglah sendiri ke masjidku atau ke rumahku.
Ternyata sang Khalid merasa tersinggung karena penolakan Imam Bukhari, sehingga ia menggunakan Harits bin Abi Al-Warraqa untuk menjelek-jelekkan mazhab Imam Bukhari. Sehingga sang Imam terpaksa keluar meninggalkan kampung halamannya. Belum genap sebulan sang Imam meninggalkan kampung halamanya, Allah menujukkan murkanya kepada orang-orang yang memusuhi Imam Bukhari. Khalid bin Ahmad sendiri tertimpa musibah berupa lengser dari jabatannya, dan terhina masuk penjara. Sedangkan Harits bin Al-Warraqa’ dan anaknya mendapatkan bencana yang tak terkira dari Allah.
Imam Bukhari menuju sebuah perkampungan di daerah Samarqand yang bernama Bahkratank. Di tempat tersebut terdapat beberapa kerabatnya yang berdomisili sehingga sang Imam tinggal bersama meraka.
Ghali bin Jibril berkata, sesungguhnya Imam Bukhari telah tinggal di sini. Tetapi tidak lama kemudian beliau menderita sakit. Ketika utusan dari Samarqand mengujungi Imam Bukhari, mereka mengharapkan sang Imam untuk bersedia keluar bersama mereka, dan beliau pun menyanggupinya. Baru saja berjalan sekitar dua puluh langkah menuju kendaraan, Imam Bukhari berkata kepadaku, “tolong tandu aku, aku sudah tidak kuat lagi."
Akhirnya kami pun mengangkatnya. Sebelum Imam Bukhari berbaring dalam kondisi tidur miring, beliau berdoa terlebih dahulu. Dalam tidurnya itu, Imam Bukhari mengeluarkan banyak keringat. Dia telah meninggalkan wasiat kepada kami dengan berkata, “Bila aku meninggal tolong beri aku kain kafan tiga lapis tanpa baju dan tanpa sorban.” Setelah menyampaikan wasiat tersebut Imam Bukhari mengembuskan nafas terakhirnya.
Imam Bukhari wafat di usianya yang ke-62 tahun kurang (tiga belas hari). Beliau meninggal pada malam Sabtu atau malam Idul Fitri 256 H saat shalat Isya. Kemudian jasadnya dikuburkan hari itu juga setelah salat Dzuhur.
Abdul Wahid bin Ahmad Ath-Thawarwisi berkata, “Dalam tidur aku melihat Rasulullah berdiri menunggu seseorang bersama rombongannya. Kemudian aku bertanya, 'ya Rasul, apa yang membuat anda menunggu di sini?’ beliau menjawab, 'Aku sedang menunggu Muhammad bin Ismail Al-Bukhari.' selang beberapa hari, aku mendapatkan kabar bahwa Imam Bukhari meninggal dunia. Kemudian aku perhatikan mimpiku, ternyata waktu Imam Bukhari wafat itu adalah waktu aku menjumpai Rasul dalam mimpiku.
Wallahu A'lam Bish-shawab...
Posting Komentar untuk "Mengenal Imam Bukhari, Kejeniusan, Kesalehan dan Kewarakannya"
Posting Komentar